Nominasi Khatulistiwa Literary Award Weton adalah hari lahir seseorang dengan pasarannya Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon Sebagian orang mempercayai Weton, sebagian lagi mengabaikannya Bagi yang percaya, Weton sangat penting dan sangat diperhitungkan Sebaliknya bagi yang tak percaya, Weton tak berarti apa apa Semua diserahkan kepada Yang Maha Kuasa Pertentangan kedua kubu inilah disajikan Dianing Widya Yudhistira dalam novel terbarunya, Weton Tokoh Mak sangat percaya pada Weton Kehidupan dan peruntungan seseorang mutlak ditentukan oleh Weton Beberapa tokoh dalam novel ini menderita dan sengsara hidupnya karena mengabaikan Weton Di pihak lain, tokoh Mukti putri Mak tidak percaya pada Weton, tetapi ditentukan oleh Tuhan YME Namun, pada akhirnya Mukti sendiri sangsi menerima cinta Wibowo, mahasiswa kedokteran yang digandrungi banyak gadis Kenapa Hitung hitungan Weton Mukti dan Wibowo ternyata jatuh pada gotong mayit


10 thoughts on “Weton, Bukan Salah Hari

  1. Hasan Irsyad Hasan Irsyad says:

    Ini novel horor Tidak lebih Setidaknya begitu menurut saya.Bercerita mengenai keluarga Mukti tokoh utama yang kedua kakaknya menikah dengan pasangan yang wetonnya tidak tepat.Kakak perempuan Mukti, Mbak Sri, menikah dengan Mas Jarwo yang hitungan wetonnya sekarat Artinya, pernikahan mereka diramalkan akan terus menerima kesialan Dan itulah yang terjadi Kecelakaan, dagang yang merugi, anak yang sakit sakitan, hingga peristiwa keguguran yang menimpa pada kehamilan kedua.Sedangkan kakak laki Ini novel horor Tidak lebih Setidaknya begitu menurut saya.Bercerita mengenai keluarga Mukti tokoh utama yang kedua kakaknya menikah dengan pasangan yang wetonnya tidak tepat.Kakak perempuan Mukti, Mbak Sri, menikah dengan Mas Jarwo yang hitungan wetonnya sekarat Artinya, pernikahan mereka diramalkan akan terus menerima kesialan Dan itulah yang terjadi Kecelakaan, dagang yang merugi, anak yang sakit sakitan, hingga peristiwa keguguran yang menimpa pada kehamilan kedua.Sedangkan kakak laki lakinya, Beno, menikah dengan Lastri yang hitungan wetonnya gotong mayit Artinya, pernikahan mereka diramalkan akan mendatangkan kematian, jika bukan pada si mempelai pada pihak arang tua dan mertua Dan hasilnya, anak dari hasil perkawinan mereka mati hanya da lam usia 10 hari Beberapa saat kemudian, Lastri juga mati karena sedih Sebelumnya, Samiun tetangga Mukti yang perkawinannya dengan istrinya juga menghasilkan hitungan weton gotong mayit harus kehilangan kedua orang tua dan mertuanya, yang dipercaya juga karena weton tersebut Dan terakhir, anak Samiun yang masih bayi juga mati, hingga akhirnya Samiun mengusir istrinya karena terpengaruh kepercayaan tentang weton.Mukti, juga bapak dan kedua kakaknya sebenarnya tidak percaya dengan weton Cuma Mak yang bersikeras mempercayai weton itu Hal itu membuat keluarga Mukti terpecah, berantakan Mak Mukti harus bertengkar hebat dengan kedua kakaknya, juga dengan bapak.Melalui pertengkaran panjangm akhirnya Mak menurut untuk mencoba melupakan kepercayaannya pada weton.Namun setelah rentetan kejadian tersebut, ketika Mak sudah berjanji pada Mukti tidak akan mempermasalahkan weton lagi, malah Mukti yang goyah Rentetan kejadian pada keluarga kedua kakaknya, juga keluarga Samiun membuatnya berpikir ulang tentang weton Apalagi, tiga tahun kemudian ketika giliran dirinya yang menikah, dia mendapati hitungan weton antara dirinya dan lelaki yang dicintainya mendapatkan hasil gotong mayit Sama seperti Beno, sama seperti Samiun Dan dia mulai ketakutan Akankah malapetaka kematian juga akan menimpa perkawinannya jiga dia lanjutkan Sebenarnya penulis mengalirkan cerita dengan menawan Penokohan juga cukup kuat Namun, karena kesan cerita yang hanya sekedar menakut nakuti tanpa memberikan solusi membuat saya menilai bahwa novel ini hanya sekedar cerita horor


  2. Reinita Afif Aulia Reinita Afif Aulia says:

    Don t judge a book by it s cover Sumpah, sy jg mikir covernya nggilani, tapi akhirnya beli juga karena ada tulisan Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007 nya, hehe. Lagian sama Gramed diobral 10rebu perak nih PKonfliknya berpusat tentang weton Jawa, kau tahulah, soal itung itungan nasib pernikahan dihitung dari hari dan pasaran begitchu. Maknya tokoh utama ngotot banget nyuruh anak anaknya buat nikah sama orang yang hasil wetonnya bagus, sedangkan anak anaknya nggak mau Tapi entah benar Don t judge a book by it s cover Sumpah, sy jg mikir covernya nggilani, tapi akhirnya beli juga karena ada tulisan Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007 nya, hehe. Lagian sama Gramed diobral 10rebu perak nih PKonfliknya berpusat tentang weton Jawa, kau tahulah, soal itung itungan nasib pernikahan dihitung dari hari dan pasaran begitchu. Maknya tokoh utama ngotot banget nyuruh anak anaknya buat nikah sama orang yang hasil wetonnya bagus, sedangkan anak anaknya nggak mau Tapi entah benar gara gara weton atau bukan, eh nasib pasangan yang hasil wetonnya gotong mayit bener bener tragis beneran Jadi. percaya atau tidak Walaupun ini novel berlatar budaya, tapi bahasanya nggak berat, lumayan enak walaupun kadang terasa aneh Jangan hiraukan perasaan saya yang memang aneh, omong omong.Omong omong lagi, novel ini pernah dibahas dalam skripsi lho Oke, saya juga sama herannya dengan Anda kok..Novel 3, 2012